Minggu, 28 Agustus 2011

DATA SANGAP NAUILI

Ini merupakan catatan dari Harian Waspada yang terdapat di dinding rumah dibuat untuk mengingatkan kami tentang Tarombo Rajagukguk, ini sengaja saya posting berharap ini bermanfaat bagi Turunan Rajagukguk, dan Agar marga lain paham mengapa kami (Rajagukguk) pernah memakai marga Munthe.

DATU SANGAP NAULI adertempat tinggal di Lualah berasal dari Lumban Sihiro Aritonang Kecamatan Muara dan kawin pertama (manunduti) dengan boru Sinambela dari Bakara dan bertempat tinggal di Lumban Sihiro Aritonang mereka mendapat tiga orang anak dan seorang putri yang bungsu bernama NAN DAMEULUAN.

Semasa hidupnya DATU SANGAP NAULI terkenal sebagai dukun yang dapat bertanding dan disamping itu kegemarannya ialah : main judi. Suatu ketika dia selalu kalah main judi sehingga kuda pusaka (hoda sibintang) juga turut dijual habis, maka ketiga putranya menjadi marah dan terjadilah keretakan antara dia dengan istrinya. Saat terakhir dari keretakan ini, DATU SANGAP NAULI bersumpah di muka istrinya bahwa mereka tidak akan bertemu muka lagi. Demikianlah dengan hati yang sedih Ia pergi meninggalkan kampung halamannya istimewa karena berpisah dengan putri kesayangannya yang masih kecil. Dengan sampan dia berdayung mengarah Uluan (Porsea) Ditengah perjalanan dia bertemu dengan seorang nelayan dan mendapat keterangan bahwa Raja Manurung di Lumban Huala sedang membutuhkan seseorang yang dapat menolongnya karena putranya barusan dibunuh musuhnya dan berjanji akan memberikan hadiah tidak terbatas. Setelah berjanji langsung, DATA SANGAP NAULI menunaikan janjinya dengan sangat berhasil dan hadiah yang dimintanya, ialah kawin dengan putri bungsu Raja Manurung. Sedangkan putri pertama diberi nama : SIBORU RUMBUNG NAULI. Disamping sawah (pemberian mertua) juga mendapat sebidang tanah di pinggir sungai Asahan (di hulu jembatan Porsea) dijadikan menjadi Perkampungan Lumban Siharo yang baru di Porsea dan mulailah memakai marga HARO.

Sejak DATU SANGAP NAULI meninggalkan Aritonang dia selalu diganggu rindu kepada NAN DAMEULUAN dan akhirnya dia pergi dengan menyamar hanya hendak bertemu muka dengan putri yang telah lama ditinggal. Mula-mula NAN DAMEULUAN memanggilnya nenek, tetapi lama kelamaan berkat kebatinannya ia mengetahui bahwa yang dipanggil nenek dan selalu memberi oleh-oleh itu adalah bapak kandungnya.

Pada pertemuan terakhir NAN DAMEULUAN meminta agar dia dibawa ayahnya, tetapi ditolak dan terus ditinggalkan. NAN DAMEULUAN menangis sambil memangil bapaknya, dia mengikuti dari belakang sedangkan ayahnya menaiki sampan dan berdayung seperti biasa. Tidk jauh dari pantai dia menoleh ke belakang dan melihat bahwa putrinya melompat  terjun ke danau dengan tidak berpikir panjang DATU SANGAP NAULI memutar sampan dan menuju putrinya yang sedang beenang, tetapi denan ajaib telah hilang lama kelamaan tersiarlah bahwa DATU SANGAP NAULI telah berupah menjadi hantu di Danau Toba bernama BORU SANIANG NAGA.
Di Porsea DATU SANGAP NAULI mendapat lagi seorang putra yang dinamai TUAN MORGU. Menurut tradisi sesudah DATU SANGAP NAULI datang dari perantauan, dia pergi memanjat pohon Unte (jeruk nipis) guna mengambil ramuan suatau makanan bagi yang baru melahirkan yang disebut bangun-bangun. Waktu inilah dia jatuh dan beberapa hari kemudian sebelum menghembuskan nafas yang penghabisan dia berpesan kepada istrinya boru Manurung, agar turunan mereka kelak memakai marga Haro Unte dan berubah menjadi HARO MUNTHE. Sepeninggalan DATU SANGAP NAULI yang menyimpan pusaka dua harta dan ilmu gaibnya adalah Siboru Rumbang Nauli, tetapi akibat takut (hadatuon) ayanya menurun kepada adiknya Tuan morgu, mka seluruhnya disuruh dibuang ke sungai Tanpa diketahui si pembaung, siboru Rumbang Nauli sengaja turut masuk ke peti tempat harta/puska tadi dan menjadi hantu lagi di Hulu jembatanan PORSEA dan bernama SIBORU SETEAN NAULI atau SOMBAON SIPALANGKA, dan sampai sekarang kedua putri ini dianggap keramat.

Turunan DATU SANGAP NAULI, sebahagian memakai marga haro dan sebagian lagi memakai marga yang asal katanya : MUNTE. Marga Munte adalah turunan Raja NAIAMBATON maka di Narumonda Tuan Morgu memakai marga yang berarti yang dimunthekan, dalam bahasa daerah disebut (nadi muntehon) Maka timbullah marga : NADIMUNTE, NAIMUNTE DAN NAMUNTE.

Saut turunan anak Tuan Morgo disebabkan suatu keinginan memakan susu (lali=dadi) kerbau, mereka mamakai marga Dalimunte, dadimunte dan Damunte.

Demikian urain dengan ringka demi kepentingan turunan DATU SANGAP NAULI RAJAGUKGUKdan komentar-komentar/keteranganketerangan akan diterima/dijelaskan dan harap berhubungan dengan penyusun silsilah ini

Disusun Oleh

A M AN   D E R I T A C. S.

kami sengaja mengetik ulang isi cerita tersebut tanpa merubah sedikitpun, agar keturunan DATU SANGAP NAULI Rajagukguk dapat menceritakan ke anak cucu mereka. 

1 komentar:

  1. Mauliate komandan atas artikelnya, ijin copi di http://rajagukguk.blogspot.com

    BalasHapus